Setelah beribu-ribu hari berhasil aku lalui tanpa bayang dan suaranya mengikuti
Aku berlari kencang mengejar masa depan
Memasuki dunia indah yang baru dan bayan
Menggerawat kala lampau yang pekat, tak lagi terjamah indra
Dimana nurani tak berpijak pada kenyataan pun mimpi
Lalu dia datang lagi
Seperti hantu-hantu masa lalu yang berhasil keluar
Dari kotak Pandora yang telah terkunci dan terkubur di kolong tanah
Berlari dan menyergapku
Menarikku kembali ke kelamnya malam ingatan
Menyentuhku dengan jari-jari masa lalu
Memelukku dengan lengan kenangan hampa
Dan sejenak aku pasrah dan tenggelam dalam indahnya semu mimpi
Karena untuk sesaat seluruh indraku terhentak:
Mataku melihat segala bentuk takterbentuk dalam gelap
Telingaku mendengar tiap deru tarikan nafas para penunggu malam
Hidungku mencium tajam cinta yang membangkai
Tanganku menjamah bayangan Sang Silam
Yang sebelum mengirap, Dia memarau
Sambil menggoreskan sebuah bentuk di udara
‘Lihatlah dalam nyatamu Aku ada
walaupun kau anggap Aku nadir
Dan malam ini Aku mengijabkan
Kau untuk menyentuhKu sekali lagi
Supaya kau ukir dalam kesadaranmu
Yang akan merabun pada saat kau membuka matamu
Ketika Sang Fajar tersingkap
Bahwa Aku di sini
Hidup membenalu dalam benakmu
Mengakar dalam mimpimu
Memekat dengan jiwamu.’




